Wednesday, October 23, 2013

Jadilah Kitab Walau Tanpa Judul

oleh: KH.Hilmi Aminuddin
Kun kitaaban mufiidan bila 'unwaanan, wa laa takun 'unwaanan bila kitaaban. Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul tanpa kitab.

Pepatah dalam bahasa Arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruuhul jundiyah, yakni jiwa ksatria. Jundiyah adalah karakter keprajuritan yang di dalamnya terkandung jiwa ksatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat perjuangan kemerdekaan.


Semangat perjuangan (hamasah jundiyah) adalah semangat untuk berperan dan bukan semangat untuk mengejar jabatan, posisi, dan gelar-gelar duniawi lainnya (hamasah manshabiyah). Saat ini, jiwa ksatria itu makin menghilang. Sebaliknya, muncul jiwa-jiwa kerdil dan pengecut yang menginginkan otoritas, kekuasaan, dan jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab, apalagi berkurban. Yang terjadi adalah perebutan jabatan, baik di partai politik, ormas, maupun pemerintahan. Orang berlomba-lomba mengikuti persaingan untuk mendapatkan jabatan, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Akibatnya, di negeri ini banyak orang memiliki "judul", baik judul akademis, judul keagamaan, judul kemiliteran, maupun judul birokratis, yang tanpa makna. Ada judulnya, tetapi tanpa substansi, tanpa isi, dan tanpa roh.

Padahal, ada kisah-kisah indah dan heroik berbagai bangsa di dunia. Misalnya, dalam Sirah Shahabah, disebutkan bahwa Said bin Zaid pernah menolak amanah menjadi gubernur di Himsh (Syria). Hal ini membuat Umar bin Khattab RA mencengkeram leher gamisnya seraya menghardiknya, "Celaka kau, Said! Kau berikan beban yang berat di pundakku dan kau menolak membantuku." Baru kemudian, dengan berat hati, Said bin Zaid mau menjadi gubernur.

Ada lagi kisah lain, yaitu Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid pada saat memimpin perang. Hal ini dilakukan untuk menghentikan pengultusan kepada sosok panglima yang selalu berhasil memenangkan pertempuran ini. Khalid menerimanya dengan ikhlas. Dengan singkat, ia berujar, "Aku berperang karena Allah dan bukan karena Umar atau jabatanku sebagai panglima." Ia pun tetap berperang sebagai seorang prajurit biasa. Khalid dicopot "judul"-nya sebagai panglima perang. Namun, ia tetap membuat "kitab" dan membantu menorehkan kemenangan.

Ibrah yang bisa dipetik dari kisah-kisah tersebut adalah janganlah menjadi judul tanpa kitab; memiliki pangkat, tetapi tidak menuai manfaat. Maka, ruuhul jundiyah atau jiwa ksatria yang penuh pengorbanan harus dihadirkan kembali di tengah bangsa ini sehingga tidak timbul hubbul manaashib, yaitu cinta kepada kepangkatan, jabatan-jabatan, bahkan munafasah 'alal manashib, berlomba-lomba untuk meraih jabatan-jabatan. Semoga.

*sumber:
 Republika
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Saturday, April 20, 2013

Seburing, Kampung nan asri namun terlupakan


Seburing, sebuah kampung yang asri dan damai, kampung yang terletak di ujung kecamatan di sebuah kabupaten di utara Kalimantan. Pada awalnya, pada zaman dahulu sebutan seburing adalah untuk kampung yang ada di desa sepadu dan desa seburing. Masyarakat masih sangat akrab dengan sebutan seburing seladu, seburing semayang, dan untuk desa seburing sendiri biasanya disebut seburing hilir. Seiring berkembangnya peradaban, kata seburing telah mengalamai spesialisasi, yaitu hanya untuk desa seburing. Sedangkan untuk seladu dan sekitarnya titel seladu sudah mulai di copot.
Untuk sebagian manusia, tidak ada yang spesial di Seburing, tidak ada tempat wisata, akses jalan pun tidak seberapa, hanya saja ada sebuah sekolah menengah pertama, yang menjadi serbuan pelajar di sekitar seburing. Pada tempo dulu, sekolah menengah pertama yang berada di seburing merupakan satu-satunya sekolah menengah pertama negeri di kecamatan semparuk.
Bicara seburing, kita harus bicara seladu dan seburing, karena ada nasab hystoris tersendiri, bahkan sangat erat.  Tidak pernah terjadi perseteruan antara keduanya, apalagi saling serang, tidak pernah. Sungguh damai terasa berada di sini. Itulah yang membuat seburing spesial.

Monday, February 11, 2013

Mother Day Is Everyday


oleh: suri abdul hadi
            Seorang yang teramat berharga, teramat banyak pengorbanan yang telah ia berikan. Dialah Ibu, manusia yang paling berjasa bagi seorang anak.
            Setiap kita terlahir dari rahim seorang Ibu. Sebuah takdir yang sangat indah, kita dilahirkan dari rahim Ibu kita, tidak pernah kita request  agar dilahirkan dari rahim ibu yang lain. Ada seorang anak yang masa kecilnya pernah protes mengapa ia dilahirkan dari Rahim Ibunya, tidak dari rahim Ibu yang lain, karena Ibunya sering ngomel.  Bahkan paling ironis ada seorang anak yang tidak mengakui ibunya yang miskin dan kotor, seperti Malin Kudang.
Begitu juga dengan seorang mahasiswa yang jauh dari Orang tua, sering melupakan Ibunya yang setiap harinya merindukan dirinya. Tatkala kehabisan uang, ia kan teringan denga ibunya, bahkan ngomel sampai ada yang marah karena kiriman uangnya telat. Bahkan sang ibu sangat paham jika ada telpon dari sang anak, tidak jauh dari permasalahan uang.
Begitukah seharusnya kita memerlakukan ibu kita? Berpuluh ribu bahkan beratus ribu rupiah kita habiskan untuk mengisi pulsa, berapa menit yang kita kita habiskan untuk ibu kita? Tahukah kita, bahwa setiap harinya ibu merindukan kita? Tak bisakah kita luangkan sejenak untuk waktu kita untuk ibu? Menelpon? Berapa hari sekali kita menelpon ibu kita? Berapa kali dalam seminggu? Atau saat akhir bulan, disaat kondisi keuangan menipis? Bahkan pernahkah kita mengatakan bahwa kita menyayanginya?
Bagaimanapun, ibu tidak pernah mengeluh. Berapapun yang kita minta. Mereka tetap bangga memilliki anak seperti kita. Sadarkah kita? Kita sering ngomel, marah keapda ibu karena kiriman telat, bahkan ada diantara kita yang risih karena ibunya sering menelpon. Tahukah kita, setiap harinya ia memikirkan kita? Pernahkan kita berfikir? Betapa susahnya mendapatkan uang sebanyak itu?
Sahabtaku, hari ibu adalah setiap hari, sebagaiman ia menjaga kita dari dalam kandungan. Pernahakan ibu mengeluh? Saat sakit mendera. Sakit yang kian terasa menjadi hilang saat mendengar tangisan kita. Ibu sangat menyayangi kita, sakit yang kian menyayat tidak terasa disaat kita lahir dengan sehat. Ia rela tidur kedinginan asalkan kita tidur pulas. Tiada hari tanpa kita. Begitulah seharusnya kita, setiap hari kita luangkan beberapa saat untuk ibu. Hanya beberapa saat. Tidak dalam telpon, mungkin dalam doa kita, selalu mendokan kebaikan untuknya.
Ada diantara kita selalu melakukan maksiat, meskipun selalu ingin berhenti dan bertaubat, tetapi tetap saja mengulanginya. Mungkin kita melupakan orang yang sangat menyayangi kita. Coba kita renungkan sejenak betapa ia menyayangi kita. Mari kita ingat disaat kita masih kecil, ada suatu masa yang begitu terasa kasih sayangnya. Mari kita ingat itu. Ada suatu masa yang begitu terasa pengorbanannya kepada kita. Mari kita ingat itu. Tentunya kita tidak mau mengecewakannya.
Saat kita ingin melakukan kemaksiatan, mari kita ingat wajah ibu kita, kita ingat segala kasih sayangnya dan pengorbanannya. Saat kita bermalas-malasan untuk belajar, bermalas-malasan sholat, tilawah, mari kita ingat wajah ibu kita. Betapa sayangnya ia kepada kita. Insyaallah ianya bisa sedikit mengetuk hati kita yang keras.
Ibu, aku mencintaimu. Baru kali ini terlafadz dari lidahku. Aku tahu separuh kasih sayangmu adalah untuk aku. Berjuta kali aku menyakitimu, tidak melunturkan cintamu kepadaku, bahkan ibu makin mencintaiku. Maafkan aku ibu, selama ini selalu berbuat kemaksiatan, yang jika ibu mengetahuinya ibu pasti memarahiku. Maafkan aku ibu. I Love You Mom.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls