Seburing, sebuah kampung yang
asri dan damai, kampung yang terletak di ujung kecamatan di sebuah kabupaten di
utara Kalimantan. Pada awalnya, pada zaman dahulu sebutan seburing adalah untuk
kampung yang ada di desa sepadu dan desa seburing. Masyarakat masih sangat
akrab dengan sebutan seburing seladu, seburing semayang, dan untuk desa
seburing sendiri biasanya disebut seburing hilir. Seiring berkembangnya
peradaban, kata seburing telah mengalamai spesialisasi, yaitu hanya untuk desa
seburing. Sedangkan untuk seladu dan sekitarnya titel seladu sudah mulai di
copot.
Untuk sebagian manusia, tidak ada
yang spesial di Seburing, tidak ada tempat wisata, akses jalan pun tidak
seberapa, hanya saja ada sebuah sekolah menengah pertama, yang menjadi serbuan
pelajar di sekitar seburing. Pada tempo dulu, sekolah menengah pertama yang
berada di seburing merupakan satu-satunya sekolah menengah pertama negeri di
kecamatan semparuk.
Bicara seburing, kita harus
bicara seladu dan seburing, karena ada nasab hystoris tersendiri, bahkan sangat
erat. Tidak pernah terjadi perseteruan antara
keduanya, apalagi saling serang, tidak pernah. Sungguh damai terasa berada di
sini. Itulah yang membuat seburing spesial.
Sedikit mengenang, pada tempo
dulu, seburing ini merupakan tempatnya pemuda-pemudi dugem, pada awalnya hanya
kumpul-kumpul biasa, biasanya ada juga hiburan, dan itu berlangusng dengan aman
dan damai, tidak ada mabuk-mabukkan. Seiring berputarnya peradaban, seperti ada
yang menginginkan pemuda di sini dan sekitarnya rusak. Sehingga keramaian yang
biasanay aman damai, disusupi budaya mabuk. Pada awalnya masyarakat resah,
karena semakin seringnya itu terjadi, masyrakat pun terbiasa.
Hal itu membuat warga resah,
karena sering terjadi pengursakan saat terjadi keramaian itu, yang dulu
aman-aman saja. Setelah Kharm itu datang, berubah sudah kondisi pemuda di sini,
sehingga pada suatu malam warga dan aparat membubarkan dengan paksa acara
keramaian tersebut, setelah beberapa kali usaha pembubaran dilakukan, akhirnya
acara keramaian tersebut bubar. Alhamdulillah.
Pada masa-masa keramaian itu
masih berlangsung, ada sekelompok pemuda yang menamakan dirinya dengan Himpunan
pemuda islam, tempat berkumpulnya anak masjid yang berada di sekitar seburing. Acara
rutinnya adalah pengajian pada malam minggu, bertepatan dengan keramaian “maksiat”
itu di laksanakan. Ya tentu jumlah mereka yang ikut pengajian itu jauh lebih
sedikit dari mereka yang kumpul “kebo” di sepanjang jalan. Tapi itu merupakan
sebuah kemajuan yang patut diapresiasi. Kalau di kampus ada lembaga dakwah
kampusnya, kalau di seburing di kala itu, HPI itulah lembaga dakwahnya yang
notabenenya para pemuda.
Seiring mengalirnya air, saat
warga dengan semangatnya membubarkan keramaian yang penuh maksiat itu,
agenda-agenda pengajian kehilangan semangatnya. Mungkin inilah yang dikatan,
bahwa setiap zaman ada pemimpinnya, dan setiap pemimpin ada hambatannya. Pada tempo
dulu yang menjadi PR utama adalah menghilangkan keramaian yang sarat dengan
maksiat, dan membuat agenda tandingannya.
Ada beberapa alasan yang membuat
para anak masjid kehilangan semangat, diantaranay berkurangnya pemuda, ada yang
menikah, ada yang menjadi TKI/TKW, ada yang studi di luar. Ya harapan saya,
setelah kembali, para pemuda harus bisa mebuka lemaran yang telah lama
tertutup, karena saat ini seburing membutuhkannya.
Pada suatu saat, saya berjalan di
sudut desa, dan mendengar beberapa info yang akurat, bahwa saat ini budaya
mabuk dan minum berfoya-foya bukan hal asing lagi, sungguh terlalu. Bahkan pernah
terdengar narkoba juga menjadi santapan mereka. Rasanya tersayat hati ini. Betapa
tidak, jika ada saudara kita yang termasuk kesana, sungguh bencana menerpa.
Tidak ada yang 100% salah, orang
tua, tidak, aparat, juga tidak, diantranya yang bisa kita salahkan adalah diri
kita. Mungkin selama ini kita kurang memikirkan generasi penerus kita,
khususnya di seburing ini. Orang tua dari pagi, sampai siang, sampai sore lagi,
mereka di sawah, malam ya waktunya istirahat, tidak sempat untuk mengawasi
anaknya.
Hal itu merupakan warisan pemuda
sebelumnya. Akibatnya masjid-masjid sepi, selalu lebih di dominasi para orang
yang sudah berumur. Ini menjadi PR kita bersama, para pemuda seburing yang
masih peduli dengan seburing, yang berada di penjuru kalimantan, dan penjuru
indonesia. Ini ladang dakwah kita. Ladang dakwah yang sering terlupakan.


8:28 AM
Pak Sam






Posted in:
0 comments:
Post a Comment