Saturday, April 20, 2013

Seburing, Kampung nan asri namun terlupakan


Seburing, sebuah kampung yang asri dan damai, kampung yang terletak di ujung kecamatan di sebuah kabupaten di utara Kalimantan. Pada awalnya, pada zaman dahulu sebutan seburing adalah untuk kampung yang ada di desa sepadu dan desa seburing. Masyarakat masih sangat akrab dengan sebutan seburing seladu, seburing semayang, dan untuk desa seburing sendiri biasanya disebut seburing hilir. Seiring berkembangnya peradaban, kata seburing telah mengalamai spesialisasi, yaitu hanya untuk desa seburing. Sedangkan untuk seladu dan sekitarnya titel seladu sudah mulai di copot.
Untuk sebagian manusia, tidak ada yang spesial di Seburing, tidak ada tempat wisata, akses jalan pun tidak seberapa, hanya saja ada sebuah sekolah menengah pertama, yang menjadi serbuan pelajar di sekitar seburing. Pada tempo dulu, sekolah menengah pertama yang berada di seburing merupakan satu-satunya sekolah menengah pertama negeri di kecamatan semparuk.
Bicara seburing, kita harus bicara seladu dan seburing, karena ada nasab hystoris tersendiri, bahkan sangat erat.  Tidak pernah terjadi perseteruan antara keduanya, apalagi saling serang, tidak pernah. Sungguh damai terasa berada di sini. Itulah yang membuat seburing spesial.


Sedikit mengenang, pada tempo dulu, seburing ini merupakan tempatnya pemuda-pemudi dugem, pada awalnya hanya kumpul-kumpul biasa, biasanya ada juga hiburan, dan itu berlangusng dengan aman dan damai, tidak ada mabuk-mabukkan. Seiring berputarnya peradaban, seperti ada yang menginginkan pemuda di sini dan sekitarnya rusak. Sehingga keramaian yang biasanay aman damai, disusupi budaya mabuk. Pada awalnya masyarakat resah, karena semakin seringnya itu terjadi, masyrakat pun terbiasa.

Hal itu membuat warga resah, karena sering terjadi pengursakan saat terjadi keramaian itu, yang dulu aman-aman saja. Setelah Kharm itu datang, berubah sudah kondisi pemuda di sini, sehingga pada suatu malam warga dan aparat membubarkan dengan paksa acara keramaian tersebut, setelah beberapa kali usaha pembubaran dilakukan, akhirnya acara keramaian tersebut bubar. Alhamdulillah.

Pada masa-masa keramaian itu masih berlangsung, ada sekelompok pemuda yang menamakan dirinya dengan Himpunan pemuda islam, tempat berkumpulnya anak masjid yang berada di sekitar seburing. Acara rutinnya adalah pengajian pada malam minggu, bertepatan dengan keramaian “maksiat” itu di laksanakan. Ya tentu jumlah mereka yang ikut pengajian itu jauh lebih sedikit dari mereka yang kumpul “kebo” di sepanjang jalan. Tapi itu merupakan sebuah kemajuan yang patut diapresiasi. Kalau di kampus ada lembaga dakwah kampusnya, kalau di seburing di kala itu, HPI itulah lembaga dakwahnya yang notabenenya para pemuda.

Seiring mengalirnya air, saat warga dengan semangatnya membubarkan keramaian yang penuh maksiat itu, agenda-agenda pengajian kehilangan semangatnya. Mungkin inilah yang dikatan, bahwa setiap zaman ada pemimpinnya, dan setiap pemimpin ada hambatannya. Pada tempo dulu yang menjadi PR utama adalah menghilangkan keramaian yang sarat dengan maksiat, dan membuat agenda tandingannya.

Ada beberapa alasan yang membuat para anak masjid kehilangan semangat, diantaranay berkurangnya pemuda, ada yang menikah, ada yang menjadi TKI/TKW, ada yang studi di luar. Ya harapan saya, setelah kembali, para pemuda harus bisa mebuka lemaran yang telah lama tertutup, karena saat ini seburing membutuhkannya.
Pada suatu saat, saya berjalan di sudut desa, dan mendengar beberapa info yang akurat, bahwa saat ini budaya mabuk dan minum berfoya-foya bukan hal asing lagi, sungguh terlalu. Bahkan pernah terdengar narkoba juga menjadi santapan mereka. Rasanya tersayat hati ini. Betapa tidak, jika ada saudara kita yang termasuk kesana, sungguh bencana menerpa.

Tidak ada yang 100% salah, orang tua, tidak, aparat, juga tidak, diantranya yang bisa kita salahkan adalah diri kita. Mungkin selama ini kita kurang memikirkan generasi penerus kita, khususnya di seburing ini. Orang tua dari pagi, sampai siang, sampai sore lagi, mereka di sawah, malam ya waktunya istirahat, tidak sempat untuk mengawasi anaknya.
Hal itu merupakan warisan pemuda sebelumnya. Akibatnya masjid-masjid sepi, selalu lebih di dominasi para orang yang sudah berumur. Ini menjadi PR kita bersama, para pemuda seburing yang masih peduli dengan seburing, yang berada di penjuru kalimantan, dan penjuru indonesia. Ini ladang dakwah kita. Ladang dakwah yang sering terlupakan.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls